Dalam beberapa dekade terakhir, dunia menyaksikan penurunan populasi serangga yang mengkhawatirkan, termasuk spesies ikonik seperti Kupu-kupu Monarch. Serangga seperti belalang, jangkrik, dan kumbang juga menghadapi ancaman serupa yang mengarah pada potensi kepunahan massal. Fenomena ini bukan hanya masalah lingkungan lokal, tetapi krisis global yang berdampak pada rantai makanan, penyerbukan tanaman, dan keseimbangan ekosistem secara keseluruhan.
Kupu-kupu Monarch (Danaus plexippus) dikenal dengan migrasi epiknya yang membentang ribuan kilometer dari Amerika Utara ke Meksiko. Namun, populasi mereka telah menyusut lebih dari 80% dalam 20 tahun terakhir. Ancaman utama bagi Monarch termasuk hilangnya tanaman milkweed—satu-satunya sumber makanan bagi ulat mereka—akibat pertanian intensif dan penggunaan herbisida. Selain itu, perubahan iklim mengganggu pola migrasi mereka, sementara pembangunan perkotaan menghancurkan habitat musim dingin di hutan Meksiko.
Belalang, yang sering dianggap sebagai hama, sebenarnya memainkan peran penting dalam ekosistem sebagai pemakan tumbuhan dan sumber makanan bagi burung serta reptil. Namun, perusakan habitat akibat deforestasi dan konversi lahan untuk pertanian telah mengurangi populasi mereka secara signifikan. Di beberapa wilayah, perburuan liar untuk konsumsi atau perdagangan hewan peliharaan juga berkontribusi pada penurunan ini. Polusi udara dan tanah dari industri pertanian—seperti pestisida—secara langsung membunuh banyak hewan ini atau meracuni tanaman yang mereka andalkan.
Jangkrik, dengan nyanyian khas mereka, adalah indikator kesehatan lingkungan. Spesies ini sangat sensitif terhadap perubahan habitat, termasuk urbanisasi dan polusi suara. Pembangunan infrastruktur seperti jalan dan perumahan sering menghancurkan habitat alami jangkrik, sementara polusi cahaya mengganggu perilaku kawin mereka. Di daerah perkotaan, penggunaan insektisida untuk mengontrol hama secara tidak sengaja membunuh jangkrik dan serangga bermanfaat lainnya, mengganggu keseimbangan ekologi.
Kumbang, salah satu kelompok serangga paling beragam, menghadapi ancaman serupa. Banyak spesies kumbang bergantung pada kayu mati atau daun busuk untuk berkembang biak, tetapi deforestasi dan pembersihan hutan menghilangkan sumber daya ini. Perburuan liar untuk koleksi juga mengancam kumbang langka, sementara polusi air dari limbah industri meracuni habitat akuatik mereka. Sebagai contoh, kumbang kotoran—penting untuk daur ulang nutrisi—terpengaruh oleh pestisida yang digunakan di peternakan.
Perusakan habitat adalah faktor utama di balik penurunan serangga. Deforestasi untuk pertanian, perkebunan, atau pembangunan perkotaan menghancurkan ekosistem alami yang menjadi rumah bagi belalang, jangkrik, dan kumbang. Di Amazon, misalnya, hilangnya hutan hujan telah menyebabkan kepunahan lokal banyak spesies serangga. Pembangunan infrastruktur seperti jalan raya dan bendungan memutus koridor migrasi dan mengisolasi populasi, mengurangi keragaman genetik dan ketahanan mereka terhadap penyakit.
Polusi dalam berbagai bentuk memperburuk situasi. Pestisida dan herbisida di pertanian membunuh serangga secara langsung atau meracuni tanaman yang mereka makan. Polusi udara dari industri dan kendaraan mengkontaminasi habitat, sementara polusi plastik di lautan memengaruhi serangga air. Bahkan polusi cahaya dan suara dari perkotaan mengganggu siklus hidup serangga nokturnal seperti kumbang dan jangkrik. Dampak kumulatif dari polusi ini tidak hanya membunuh banyak hewan tetapi juga melemahkan ekosistem yang mendukung kehidupan manusia.
Perburuan liar, meski kurang dibahas, juga berkontribusi pada ancaman kepunahan. Kupu-kupu Monarch sering diburu untuk koleksi atau perdagangan ilegal, sementara belalang dan jangkrik ditangkap untuk umpan ikan atau makanan. Di Asia Tenggara, perdagangan kumbang langka untuk hobi telah mendorong beberapa spesies ke ambang kepunahan. Aktivitas ini sering tidak diatur dan mengabaikan kuota berkelanjutan, mempercepat penurunan populasi serangga yang sudah rentan.
Dampak dari kepunahan serangga sangat luas. Serangga berperan penting dalam penyerbukan tanaman pangan—tanpa mereka, produksi pertanian global akan terganggu. Mereka juga mengendalikan hama alami, mendaur ulang nutrisi, dan menjadi dasar rantai makanan bagi burung, amfibi, dan mamalia. Hilangnya belalang, jangkrik, dan kumbang dapat memicu efek domino yang merusak biodiversitas. Misalnya, penurunan Kupu-kupu Monarch telah dikaitkan dengan berkurangnya penyerbukan tanaman milkweed dan bunga liar.
Upaya konservasi sedang dilakukan untuk melindungi serangga yang terancam punah. Untuk Kupu-kupu Monarch, inisiatif penanaman milkweed dan perlindungan habitat migrasi telah diluncurkan di Amerika Utara. Di Eropa, program restorasi padang rumput bertujuan menyelamatkan populasi belalang dan jangkrik. Pengurangan penggunaan pestisida, pembuatan koridor hijau di perkotaan, dan regulasi perburuan liar juga menjadi strategi penting. Namun, tantangan seperti perubahan iklim dan tekanan pembangunan memerlukan aksi global yang lebih kohesif.
Kesadaran publik adalah kunci untuk menyelamatkan serangga. Edukasi tentang pentingnya belalang, jangkrik, kumbang, dan Kupu-kupu Monarch dapat mendorong dukungan untuk kebijakan konservasi. Masyarakat dapat berkontribusi dengan menanam tanaman asli, mengurangi penggunaan pestisida di kebun, dan mendukung organisasi lingkungan. Di tingkat internasional, kerja sama untuk mengatasi deforestasi, polusi, dan perdagangan ilegal sangat diperlukan. Melindungi serangga bukan hanya tentang menyelamatkan spesies individu, tetapi menjaga kesehatan planet untuk generasi mendatang.
Sebagai penutup, ancaman terhadap Kupu-kupu Monarch dan serangga lainnya adalah cermin dari tekanan yang dihadapi biodiversitas global. Perusakan habitat, polusi, dan perburuan liar telah membunuh banyak hewan dan mengganggu ekosistem. Dengan tindakan segera—mulai dari kebijakan pemerintah hingga aksi individu—kita dapat membalikkan tren ini dan memastikan belalang, jangkrik, kumbang, dan Monarch terus menghiasi dunia alami kita. Setiap upaya, sekecil apa pun, berkontribusi pada pelestarian warisan alam yang tak ternilai ini.